Merajut Asa dalam Dinamika

By fekrinovidra 24 Jun 2021, 08:35:03 WIB Seputar Kampus
Merajut Asa dalam Dinamika

Lokakarya MAN 1 Kota Padang Panjang

Setelah mendalami materi selama dua hari di madrasah sejak 21_ 22 Juni kemarin, kini dihari ke 3 Lokakarya MAN 1 Kota Padang Panjang memilih lokasi di luar madrasah. Dengan agenda kegiatan pembagian tugas dan out bound guna mempererat kebersamaan antar civitas akademika. Lokasi yang dipilih adalah di Puncak Anai dan berakhir di Pariaman.

Usai pelaksanaan out bound, acara dilanjutkan dengan pembagian tugas oleh Wakil Kurikulum Dra. Erianis. Kemudian ditutup oleh Kepala Madrasah H. Julpiadi Hutabarat, S.Ag. M.S.I. sore ini Rabu 23 Juni 2021 di Pantai Tiram. Dalam pidato penutupan kepala madrasah berharap agar setelah  kegiatan lokakarya ini seluruh guru dan pegawai agar selalu menjalin kebersamaan, saling membahu untuk melanjutkan  misi pendidikan di MAN 1 Padang Panjang tahun pelajaran 2021/2022.

Mengapa perlu diadakan out bound? Apakah tidak lebih baik bila lokakarya ini hanya dilaksanakan di madrasah saja?
Sementara warga madrasah adalah kumpulan individu yang hidup berdampingan dengan segala perbedaannya.

Terkait dengan hal ini, seorang pemikir telah menukilkan sejak lama.  Zoon politicon merupakan sebuah istilah yang digunakan oleh Aristoteles untuk menyebut bahwa manusia adalah makhluk sosial.  Dalam pendapat ini, Aristoteles menerangkan bahwa manusia dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain. Namun dalam hidup berdinamika, kepala boleh sama hitam, pikiran berbeda beda.


Pikiran adalah  dasar  terciptanya suatu fokus untuk memecahkan seluk beluk permasalahan yang berkaitan dengan dinamika kehidupan manusia. Dengan  pikiran pula dapat diasumsikan suatu cara  untuk menanggapi situasi, kondisi, bahkan pernyataan yang kerap menjadi meriam karena dibumbui kesalahpahaman. Bukan kesalahpahaman yang menjadi dasar di sini namun jalan pikiran yang berbedalah yang membuat orang menilai sesuatu dengan persepsi yang tidak bisa disatukan karena memilki maksud yang tidak sama. 

Tidak ada yang pantas menyalahkan atau disalahkan dalam hal ini, bagaimanapun juga yang namanya perspektif adalah hal yang relatif asal jangan sampai melewati batas objektif.
Begitu juga hal nya dengan kemanusiaan, menurutmu apa yang pertama kali terpikir ketika mendengar kata kemanusiaan? Apa itu sesuatu hal yang bersifat asasi, kongkrit, atau malah hanya sekedar formalitas belaka? Itu kembali lagi kepada persepsi masing-masing.

Sementara itu kemanusian yang sebenarnya lebih menekankan kepada hal yang beradab. Seperti sila ke-dua yang ada pada Pancasila, bahwa “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, lantas apa itu sudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari? Jika di tinjau lebih jauh banyak hal yang mungkin tidak tersentuh atau bisa di bilang jauh dari kata kemanusiaan.

Sejatinya banyak hal yang termasuk dalam kemanusiaan bahkan segala bentuk sikap kita sehari-hari tidak bisa terlepas dari kata kemanusiaan, karena pada kenyataannya kita hidup di dunia ini tidak sendiri, sehingga di setiap harinya pasti ada interaksi antara satu sama lain. Dalam interaksi tersebut tentunya kita tidak dapat seenaknya sendiri dalam melakukan tindakan maupun bersikap, karena hak asasi kita terbatas oleh hak asasi orang lain. Tenggang rasa mungkin adalah salah satu cara untuk saling menghormati dan menghargai satu sama lain dalam keanekaragaman untuk menciptakan simponi yang selaras.

Tenggang rasa adalah kata yang sederhana yang memilki dampak besar namun sulit dalam penerapannya. Manusia cenderung dikuasai oleh id,  ego, bahkan super ego yang membuatnya seolah-olah merasa selangit padahal setelah dibandingkan dengan semesta ini,  kita hanyalah ciptaan-Nya yang kecil. 

Kesibukan yang menggeluti tiap-tiap individu juga menjadi faktor mengapa manusia kerap kali tidak berada di zona adabnya. Lantas apa hal ini dapat dibiarkan menjamur begitu saja. Disinilah peran kita sebagai  kaum intelektual yang sejatinya harus memberikan visualisasi nyata,  betapa indahnya toleransi diantara keanekaragaman yang kita punya.


 

Alangkah naifnya jika memandang perbedaan sebagai sesuatu hal yang dapat menjadikan jalan hidup kita tersandung, namun jadikanlah perbedaan itu sebagai suatu batu loncatan untuk menggapai cita yang telah lama diukir dalam harap agar terealisasi sebagaimana asa itu ingin dicapai. (am/HUMAS)




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment